bolehkah menyemir rambut menggunakan warna hitam

bolehkah menyemir rambut menggunakan warna hitam

pendahuluan

seiring bertambahnya usia pada diri seseorang,maka pada saat yang bersamaan pula terjadi gejala perubahan – perubahan biologis pada fisik seseorang seperti bertambahnya tinggi badan, perubahan struktur kulit, perubahan suara, perubahan warna rambut dan sebagainya.
dari perubahan fisikal ini maka muncul lah beberapa pertanyaan diantaranya bagaimana hukumnya seseorang yang sudah beruban menyemir rambutnya dengan warna hitam ?

dalam hal ini perlu kita ketahui pula faktor-faktor apa saja yang menyebabkan seseorang beruban, diantaranya mungkin karna faktor usia, namun ada pula seseorang yang masih muda namun sudah tumbuh uban di rambutnya dikarenakan beberapa faktor diantaranya : faktor genetik, stres, penyakit automium, gangguan kelenjar tiroid, kekurangan vitamin B-12, rokok, dan bahan kimia yang terkandung dalam produk perawatn rambut

tentunya akan sangat kurang nyaman ketika umur seseorang yang masih muda namun telah tumbuh uban di rambutnya, maka jalan yang biasa dilakukan seseorang untuk mengembalikan warna rambutnya yaitu dengan menyemir rambutnya dengan warna hitam dikarenaan menyemir rambut dengan warna lain tidak memungkinkan, lalu bagaimanakah hukumnya dalam islam menyemir rambut dengan semir warna hitam

Hadits-hadits terkait

عَنْ جَا بِرِبْنِ عَبْدِالله قَالَ : أُتِيَ بِأَنِي قُحَافَةَ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّتَ وَرَأْسُهُ وَلْحِيَتُهُ كَالثَّغَامَةِ بَيَاضًا,فَقَالَ رَسُوْلُ للهِ ﷺ غَيِّرُوا هَذَا بِشَيْءٍ وَاجْتَنِبُوْا السَّوَادَ

Dari Jabir bin Abdillah Ra dia berkata ” pada hari penaklukan kota Mekkah, Abu Quhafah (ayah Abu Bakar) dalam keadaan rambut dan janggutnya memutih seperti kapas maka Rasulullah saw bersabda ” semirlah rambut dan janggutmu dengn sesuatu dan jauhilah warna hitam” ( HR. Muslim : 3932 )

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ رَسُوْلُ للهِ ﷺ يَكُوْنُ قَوْمٌ يَخْضِبُوْنَ فِيْ آخِرِ الزَّمَانِ بِالسَّوَادِ كَحَوَاصِلِ الْحَمَامِ لَايَرِ يحُونَ رَاءِحُةَ الجَنَّة

Dari ibnu Abbas ia berkata, ” Rasulullah Saw bersabda: “pada akhir zaman nanti akan ada orang-orang yang mengecat rambutnya dengan warna hitam seperti warna mayoritas dada merpati, mereka tidka akan mendapat bau surga. ” ( HR. Abu Dawud No.3679 )

baca juga : meluruskan dan merapatkan shaf, harus saling menempelkah ?

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةً قَالَ, قَالَ رَسُوْلُ للهِ ﷺ إِنَّ اليَهُودَ والنَّصَارَى لَا يَصْبُغُونَ فَخَالِفُوهُمْ قالَ عَبْدُ الرَّزَّاقِ فِي حَدِيثِهِ قَالَ الزُّهْرِيُّ وَالأَمْرُبِالأَصْبَاغِ فَأَحْلَكُهُا أَحَبَُ إِلَيْنَا قَالَ مَعْمَرٌ وَكَانَ الزُّهْرِيٌّ يَخْضِبُ بِالسَّوَاد

Dari Abu Hurairah, Dia berkata; Rasulullah Saw bersabda: ” sesunggunhya orang-oran yahudi dan Nasrani tidak mencelup rambut mereka dengan semir, maka selisihilah mereka. ” Abdurrazaq menyebutkan dalam riwayatnya; Az Zuhri berkata; ” Adapun perintah untuk mencelup rambut, maka warna hitam adalah lebih kami sukai. ” Ma’mar berkata; ” Az Zuhri mencelup rambutnya dengan warna hitam ( HSR. Ahmad No.7737 )

baca juga : hukum merenggangkan shaf shalat ketika wabah

عَنِ الزُّبَيرِ رضي الله عنه قَلَ : قَالَ رَسُوْلُ للهِ ﷺ : غَيِّرُوا الشَيْبَ, وَلَا تَشَبَّهُوابِالْيَهُودِ

Dari Zubair Ra berkata : Rasulullah Saw bersabda: ” ubahlah warna uban dan janganlah kalian menyerupai orang-orang yahudi”. HSR Ahmad 1361

untuk memahami hadits-hadits di atas perlu sebuah metodoligi yang tepat, sehingga dapat memahaminya secara komperhensif. pertama mengumpulkan hadits-hadits yang setema. kedua memilah dan menganalisis mana hadits yang terkategori mutlaq, mana yang muqoyyad. ketiga, memasukan kaidah memasukan yang mutlaq pada yang muqoyyad.

hadits pertama konteksnya adalah ketika kejadian fathu makah, Abu Quhafah diperintahkan untuk diubah warna rambutnya dan hindari warna hitam, sedangkan hadits kedua, menerangkan pada akhir zaman akan ada sebuah kaum yang menyemir rambut mereka dengan warna hitam. ditegaskan mereka tidak akan mencium bau surga. ada sebagian ulama dengan dalil kedua hadits diatas mengharamkan menyemir ramabut dengan warna hitam, atau minimal memakruhkan. akan tetapi pada hadits ketiga, menegaskan bahwa ciri fisik orang yahudi dan nasrani pada waktu itu adalah mereka tidak mencelup atau menyemir rambut mereka, kemudian RAsulullah saw memerintahkan supaya menyelisihi mereka ( dengan menyemir rambut). bahkan rawi yang meriwayatkan hadits tersebut yaitu Az-zuhru menyukai semir rambut denganwara hitam bahkan melakukannya, begitu pua dengan hadits ke empat, RAulullah saw memerintahkan untuk menyemir uban dan memerintahkan untuk tidak menyerupai orang-orang yahudi

hadits pertama dan kedua terkatgori mutlak, sehingga tidak dapata dipahami secara utuh, kecuali dengan memahami konteks hadits sebagaimana yang diterangkan dalam hadits ketiga dan keempat. dengan demikian perintah menyemir rambut atau uban dan menjauhi dengan warna hitam tidak terlepas dari kebijakan Rasulullah saw untuk tidak menyerupai orang yahudi dan nasrani pada waktu itu, sebagaimana dalam keterangan ketiga dan keempat.

adapun untuk konteks sekarang identitas penyemiran rambut termasuk dengan menjauhi warna hitam, tidak lagi menjadi identitas pembeda dengan yahudi maupun nasrani. adapun terkait dengan akhir zaman akan ada suatu kaum yang menyemir rambut mereka dengan warna hitam tapi mereka tidak akan mencium bau surga, tidak dapat dijadikan dalil bahwa menyemir dengan warna hitam menjadi haram atau makruh, disamping karena tidak secara sarih, juga karena mereka mendapatkan laknat tidak akan mencium bau surga itu, bukana karena warna rambutnya tapi karena dosa yang mereka lakukan belum kita ketahui.

Kendatipun demikian, jika menyemir uban dengan tujuan menipu atau mengelabui maka hukumnya haram ( Zad Al-ma’ad 4 : 337, tuhfah al-ahwadzi 5:358-361). misalnya seseorang yang sudah tua dan beruban hendap menyemir rambutnya dengan warna hitam agar terlihat tampak lebih muda. begitu pula jika dengan mengecat atau menyemir rambut dengan warna tertentu dengan tujuan kesombongan atau bertujuan hednak menyerupai ( tasyabbuh) sebuah kaum yang berstigma negatif atau identik dengan jahat dan kemaksiatan maka hukumnya haram pula.

aspek lain yang menjadi bahan pertimbangan hukum adalah bahan dasar dari pewarna rambut, jika dipastikan dari benda yang diharamkan, maka harampula menggunakannya untuk menyemir rambut. susuai dengan hadits

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ : إِنَّ اللهَ تَعَالَى إِذَا حَرَّمَ شَيْئًا حَرَّمَ ثَمَنَهُ

Dari Ibnu Abbas Ra, dari Nabi Saw bersabda : ” sesungguhnya Allah Ta’ala apabila mengharamkan sesuatu, maka haram pula mengambil harganya.” ( HSR ad-Daraquthni no.2469 )

maksud hadis diatas yaitu apabila Allah mengaharmkan sesuatu, misalnya babi, maka haram pula mengambil harganya atau mengambil manfaat daripadanya termasuk dijadikannya bahan-bahan kosmetik.

kesimpulan :

  1. pada dasarnya menyeir rambut kepala, kumis, atau janggut termasuk warna hitam hukumnya mubah, adapun hadits-hadits terkait perintah menyemir rambut dan larangna menggunakan warna hitam maksudnya terkait kebijakan Rasulullah Saw untuk tidak menyerupai orang yahudi dan nasrani pada waktu itu
  2. menyemir rambut kepala, kumis, atau janggut dengan warna hitam atau lainnya dengan tujuan mengelabui ( penipuan ) atau kesombongan hukumnya haram
  3. menyemir rambut kepala, kimos atau janggut dengan warna hitam atau lainnya dengan tujuan mode menyerupai sebuah kaum yang berstigma negatif atau kaum yang identik dengan kejahatan dan kemaksiatan hukumnya haram.
  4. menyemir rambut kepala, kumis atau janggut, jika dipastikan dari bahan yang diharamkan, maka hukumnya haram

wallahu a’lam bish-shawab.

referensi :
1. istifta majalah risalah januari 2017
2. https://www.youtube.com/watch?v=667-uyKDjVM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *