hukum merenggangkan shaf shalat ketika wabah

hukum merenggangkan shaf shalat ketika wabah

pendahuluan

semenjak masuknya wabah virus covid-19 ke tanah air, pemerintah dan seluruh masyarkat gencar mengkampanyekan pola hidup bersih dengan rajin mencuci tangah, social distancing hingga di anjurkan untuk bekerja dari rumah. aktivitas di perkantoran di batasi, kegiatan belajar mengajar dilakukan secara daring, pertokoan di tutup, tempat ibadah ada yang di tutup dan ada yang masih terbuka namun dengan beberapa catatan, hal ini dilakukan untuk mengurangi resiko penyebaran virus covid-19.

menanggapi peraturan pemerintah untuk melaksanakan social distancing tentunya memunculkan berbagai permasalahan terutama bagi umat islam yang biasa melaksanakan ibadah shalat berjamaah di masjid. permasalahan yang sering ditanyakan adalah bolehkan merenggangkan shaf ketika melaksanakan shalat berjamaah. para ulama berbeda pendapat dalam mengeluarkan fatwa ini, ada yang membolehkan adapun yang tidak

perintah meluruskan dan merapatkan shaf

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan kita untuk meluruskan shaf dalam shalat. Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

سَوُّوا صُفُوفَكُمْ , فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَّفِّ مِنْ تَمَامِ الصَّلاةِ
“Luruskanlah shaf-shaf kalian, karena lurusnya shaf adalah kesempurnaan shalat” (HR. Bukhari no.690, Muslim no.433).

وَعَنْ أَنَسٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ رَسُولَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( رُصُّوا صُفُوفَكُمْ ، وَقَارِبُوا بَيْنَهَا ، وَحَاذُوا بِالأعْنَاقِ؛ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إنِّي لأَرَى الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ مِنْ خَلَلِ الصَّفِّ ، كَأَنَّهَا الحَذَفُ )) حَدِيْثٌ صَحِيْحٌ رَوَاهُ أبُو دَاوُدَ بِإِسْنَادٍ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ .
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Rapatkanlah shaf kalian, dekatkanlah di antara shaf-shaf, dan sejajarkanlah tengkuk-tengkuk kalian. Demi Allah yang diriku ada pada tangan-Nya, sesungguhnya aku melihat setan masuk ke sela-sela shaf, seperti domba kecil.” (HR. Abu Daud, shahih dengan sanad sesuai syarat Muslim)

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنهُمَا : أَنَّ رَسُولَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( أَقِيْمُوا الصُّفُوفَ ، وَحَاذُوا بَيْن المَنَاكِبِ ، وَسُدُّوا الخَلَلَ ، وَلِيَنُوا بِأيْدِي إِخْوَانِكُمْ ، وَلاَ تَذَرُوا فُرُجَاتٍ لِلشَّيْطَانِ ، وَمَنْ وَصَلَ صَفّاً وَصَلَهُ اللهُ ، وَمَنْ قَطَعَ صَفّاً قَطَعَهُ اللهُ )) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ بِإِسْنَادٍ صَحِيْحٍ

Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Luruskanlah shaf-shaf kalian, ratakanlah pundak-pundak kalian, isilah shaf yang kosong, bersikap lemah lembutlah terhadap tangan-tangan saudara kalian, dan janganlah kalian biarkan shaf kosong untuk diisi setan. Barangsiapa yang menyambungkan shaf, Allah pasti akan menyambungkannya dengan rahmat Allah dan barangsiapa yang dengan sengaja memutuskan shaf, Allah pasti akan memutuskannya dengan rahmat Allah .” (HR. Abu Daud, sanadnya hasan) [HR. Abu Daud, no. 666; An-Nasa’i, no. 820. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan].

hukum meluruskan dan merapatkan shaf

meluruskan dan merapatkan shaf adalah kewajiban dan syarat sahnya shalat berjamaah, berdasarkan dalil-dalil yang di sajikan dalam bentuk fi’il amr ( سَوُّوا ) luruskanlah, ( وَسُدُّوا الخَلَلَ ) isi penuhi celah celah dan sejauh ini belum ada qarinah yang yang memalingkan dari indikasi wajibnya . sebagaimana dalam kaidah ushul di katakan al-Aslu fil amri lil wujub artinya “asal dari perintah itu adalah wajib”.

kewajiban meluruskan dan merapatkan shaf diperkuat pula oleh ancaman Allah bagi siapa saja yang sengaja memutuskan shaf, berdasarkan ungkapan

مَنْ وَصَلَ صَفّاً وَصَلَهُ اللهُ ، وَمَنْ قَطَعَ صَفّاً قَطَعَهُ اللهُ

Barangsiapa yang menyambungkan shaf, Allah pasti akan menyambungkannya dengan rahmat Allah dan barangsiapa yang dengan sengaja memutuskan shaf, Allah pasti akan memutuskannya dengan rahmat Allah.

apabila meuruskan dan merapatkan shaf dinilai sunnah,maka meninggalkannya tidak mengapa dan tidak akan mendapatan ancaman. seperti halnya ketika mengangkat tangan ketika takbiratul ihram, melafalkan kalimat takbir adalah wajib apabila tidak melafalkan kalimat takbir maka shalatnya tidak sah, namun apabila tidak mengangkat tangan tapi telah melafalkan kalimat takbir maka shalatnya tetap sah karena mengangkat tangan ketika takbiratul ihram adalah perbuatan sunnah

baca http://www.saffarzine.com/meluruskan-dan-merapatkan-shaf-harus-saling-menempelkah/

merenggangkan shaf shalat berjamaah karena pandemi, solusi sesuai udzur syar’i kah ?

sebagian pendapat menjelaskan bahwa solusi shalat berjamaah di masjid ketika dalam keadaan pandemi adalah diperbolehkannya merenggangkan shaf sesuai dengan anjuran pemerintah, dan hal ini dinilai sebagai udzur syari’i dikarenakan adanya pandemi yang mengharuskan terjadinya perubahan hukum sesuai dengan kaidah yang populer di kalangan fuqaha yaitu : الضَّرُوْرَاتُ تُبِيْحُ الْمَحْظُوْرَاتِ

“Keadaan darurat membolehkan yang dilarang.” (Lihat, Al-Asybah wa an-Nazha’ir, hlm. 85)

namun apakah tepat kaidah tersebut di tempatkan dalam kasus merenggangkan shaf shalat ketika terjadi pandemi?

kaidah tersebut lebih tepat di tempatkan pada sesuatu darurat yang amat mendesak (syiddatul uzum), sesuatu yang tidak dapat dihindari (lâa ghinaâ ‘anhu), atau sesuatu yang memaksa (alja’ahu) yang dalam Al-Qur’an disebut dengan istilah idhthirâr yang apabila sesuatu tersebut adalah pilihan terakhir yang hanya bisa di tempuh seseorang karena tidak ada lagi pilihan, berdasarkan firman Allah swt


إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ فَمَنْ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah (yang mengalir), daging babi, dan binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak pula atas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Baqarah: 173 )

hemat kami, merenggangkan shaf bukanlah solusi utama bagi shalat berjamaah ketika pandemi, masih ada solusi selanjutnya yaitu melaksanakan shalat berjamaah di rumah bersama keluarga sehingga tidak merusak kaifiyat shalat berjamaah yang di perintahkan oleh Rasulullah saw, dan moment ini pula, bisa menjadi moment untuk membangun keharmonisan keluarga melaksanakan shalat berjamaah bersama setelah sebelumnya laki-laki di perintahan untuk melaksanakan shalat berjamaah di masjid

lalu muncul pernyataan, meskipun dikatakan shalat berjamaah, shalat berjamaah di rumah tidak akan sama nilai nya dengan melaksanakan shalat berjamaah di masjid. pertanyaan itu kerap muncul bagi seseorang yang sering melaksanakan shalat berjamaah di masjid namun dikala pandemi mengharuskan ia untuk shalat berjamaah di rumah dan terkadang memaksa shalat di masjid meskipun dalam keadaan shaf renggang.

untuk seseorang yang demikian, tidak perlu khawatir kehilangan pahala berjamaah karena apabila seseorang tersebut sudah terbiasa melakukan sesuatu amal namun pada suatu saat ia terhalang melaksanakan amal tersebut di karenakan ada udzur syar’i yang mengharuskan seseorang tersebut meninggalkannya maka pahala nya akan di catat sebagaimana ia melakukan amal tersebut sebagaimana biasa nya. hal ini berdasarkan hadits

Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

Jika seorang hamba sakit atau melakukan safar (perjalanan jauh), maka dicatat baginya pahala sebagaimana kebiasaan dia ketika mukim dan ketika sehat.” (HR. Bukhari, no. 2996)

mengenai hadits tersebut, Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan,

وَهُوَ فِي حَقّ مَنْ كَانَ يَعْمَل طَاعَة فَمَنَعَ مِنْهَا وَكَانَتْ نِيَّته لَوْلَا الْمَانِع أَنْ يَدُوم عَلَيْهَا

“Hadits di atas berlaku untuk orang yang ingin melakukan ketaatan lantas terhalang dari melakukannya. Padahal ia sudah punya niatan kalau tidak ada yang menghalangi, amalan tersebut akan dijaga rutin.” (Fath Al-Bari, 6: 136)

hal ini diperkuat dengan hadits dari Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

الْعَبْدَ إِذَا كَانَ عَلَى طَرِيقَةٍ حَسَنَةٍ مِنَ الْعِبَادَةِ ثُمَّ مَرِضَ قِيلَ لِلْمَلَكِ الْمُوَكَّلِ بِهِ اكْتُبْ لَهُ مِثْلَ عَمَلِهِ إِذَا كَانَ طَلِيقاً حَتَّى أُطْلِقَهُ أَوْ أَكْفِتَهُ إِلَىَّ

Seorang hamba jika ia berada pada jalan yang baik dalam ibadah, kemudian ia sakit, maka dikatakan pada malaikat yang bertugas mencatat amalan, “Tulislah padanya semisal yang ia amalkan rutin jika ia tidak terikat sampai Aku melepasnya atau sampai Aku mencabut nyawanya.” (HR. Ahmad, 2: 203)

kesimpulan :

  1. merenggangkan shaf adalah wajib hukumnya
  2. merenggangkan shaf tanpa alasan syar’i menyalahi kaifiyah shalat berjamaah
  3. seseorang yang melaksanakan shalat berjamaah dengan merenggangkan shaf, shalatnya tetap sah namun tidak sah nilai berjamaahnya
  4. bagi daerah zona merah dan khawatir akan menjadi media penyebaran virus covid-19 shalat berjamaah dilakukan di rumah bersama keluarga
  5. bagi yang tidak mendapati teman untuk melaksanakan shalat berjamaah maka di lakukan secara munfarid dan insyallah nilai berjamaah akan tetap tercatat tanpa harus merusak kaifiyat shalat berjamaah
  6. merapatkan shaf dalam shalat berjamaah bukan berarti harus saling menempel dan berhimpitan

wallahu a’lam

Referensi :

  1. https://www.persis.or.id/dewan-hisbah-pp-persis-keluarkan-panduan-ibadah-dalam-kondisi-pandemi-covid-19
  2. https://youtu.be/Flc6hvblXpk
  3. www.sigabah.com
  4. https://www.sigabah.com/beta/pandangan-dewan-hisbah-terhadap-dampak-penyebaran-virus-corona-menurut-syariat/
  5. http://www.saffarzine.com/meluruskan-dan-merapatkan-shaf-harus-saling-menempelkah/

One thought on “hukum merenggangkan shaf shalat ketika wabah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *