IED jatuh pada hari jum’at ,bolehkah meninggalkan shalat jum’at bagi laki-laki yang telah melaksanakan shalat ied

IED jatuh pada hari jum’at ,bolehkah meninggalkan shalat jum’at bagi laki-laki yang telah melaksanakan shalat ied

Sehubungan dengan jatuhnya hari raya iedul adha atau iedul fitri pada hari jum’at  muncul berbagai pertanyaan diantaranya :

apakah orang yang sudah melaksanakan shalat ied diwajibkan juga untuk melaksanakan shalat jum’at pada siang harinya ?

bolehkah orang yang sudah melaksanakan shalat ied pada pagi harinya lalu tidak mengerjakan shalat jum’ah ?

apakah orang yang tidak mengerjakan shalat jum’at dikarenakan  sudah melaksanakan shalat ied harus melaksanakan shalat dzuhur ?

maka dari itu kajian majlis sigabah dan dialog islam yang biasa digelar pada setiap hari senin membahas syarah shahih muslim bersama Al-Ustadz amin muchtar,pada pertemuan kali ini (selasa 07 dzulhijjah 1441H / senin 27 juli 2020 hadir dengan edisi khusus membahas ied pada hari jumat : di tinjau dari sisi riwayah dan sejarah, dan permasalah ini telah disidangkan pula oleh dewan hisbah persatuan islam pada 17-19 shafar 1419H/ 12-14 juni 1998M di bandung

berikut akan di jelaskan dalil dan argumentasinya mengenai permasalahan yang di hadirkan

peristiwa ied yang jatuh bertepatan dengan hari jum’at pernah terjadi dizaman rasulullah sebagaimana di terangkan oleh 4 orang sahabat rasul yaitu

  1. ibnu umar dalam riwayat At-thabrani , ibnu abu syaibah, Abdur Razaq, ibnu khuzaimah, al-hakim dan ibnul Jarud
  2. Zaid bin Arqam dalam riwayat Ahmad, Abu daud ,An-nasai, ibnu majah dan Al-hakim
  3. Abu hurairah dalam riwayat Abu Daud ,Ibnu majah dan Al-hakim
  4. Ibnu abbas dalam riwayat Ibnu majah

Semuanya menjelaskan bahwa ied pada waktu itu adalah iedul fitri, yaitu 1 syawal 3H / 15 maret 625 M. Dan inilah satu-satunya iedul fitri yang jatuh pada hari jum’at selama Rasul hidup di madinah selama 10 Tahun.

Keterangan ibnu umar dalam riwayat at-thabrani, ibnu abu syaibah, Abdur Razaq, ibnu khuzaimah, al-hakim dan ibul jarud sebagai berikut

اجْتَمَعَ عِيدَانِ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمُ فِطْرٍ وَجُمْعَهٌ فَصَلَّى بِهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلاةَ الْعِيدِ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْهِمْ بِوَجْهِهِ فَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّكُمْ قَدْ أَصَبْتُمْ خَيْرًا وَأَجْرًا وَإِنَّا مُجْمِعُونَ فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يُجْمِعَ مَعَنَا فَلْيُجْمِعْ وَمَنْ أَرَادَ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى أَهْلِهِ فَلْيَرْجِعْ

“Telah bersatu dua ied pada zaman Rasulullah saw., yaitu Iedul Fitri dan Jumat, maka beliau shalat mengimami mereka shalat ied, kemudian beliau menghadapkan wajahnya pada mereka, lalu bersabda, ‘Wahai manusia, sungguh kalian telah mendapatkan kebaikan dan pahala, dan sesungguhnya kami akan melaksanakan shalat Jumat. Maka siapa yang akan melaksanakan salat Jum’at bersama kami, maka silahkan shalat Jumat, dan siapa yang akan kembali kepada keluarganya, maka kembalilah.” (Lihat, Al-Mu’jam Al-Kabir, XII: 435, No. 13.591)

Sementara dalam hadits ibnu abas dengan redaksi

اجْتَمَعَ عِيدَانِ فِي يَوْمِكُمْ هَذَا فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنَ الْجُمُعَةِ وَإِنَّا مُجَمِّعُونَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

“Pada hari kamu ini telah bersatu dua ied, maka siapa yang menghendaki (tidak melaksanakan salat Jum’at), maka salat ied ini mencukupkan dari (shalat) Jum’at, dan sesungguhnya kami akan melaksanakan salat Jum’at. Insya Allah.” HR. Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, I:416, No. 1311

Maka dari hadits rasul tersebut kita mendapatkan petunjuk bahwa bagi laki-laki yang telah melaksanakan salat ied di berikan hanya dua pilihan

Pilihan yang pertama : Boleh tidak melaksanakan Shalat Jum’at

Pilihan yang kedua : boleh melaksanakan shalat Jum’at .

Sahabat Abu Ubaid riwayat Al-Bukhari, Abdur Razaq, Ibnu Hiban menerangkan bahwa pada masa kekhalifahan Umar, Usman bin affan dan Ali pernah terjadi iedul adha pada hari jum’at. Kemudian pada masa kekhalifahan ibnu zubair yaitu kurang lebih tahun 64H Terjadi pula iedul fitri pada hari Jum’at (Fathul Bari,III:129)

Dibolehkannya laki-laki yang telah melaksanakan shalat ied dan minggalkan shalat jum’at tidak bisa diartikan bahwa shalat ied sebagai shalat sunnat telah mengalahkan salat jum’at yang wajib, karena bagi laki-laki jika pagi harinya telah melaksnakan shalat ied, di pandang telah melaksanakan salat jum’at dan bagi laki-laki yang berkeinginan tidak melaksanakan shalat jum’at dikarenakan pagi harinya telah melaksanakan shalat ied bukan berarti pula harus melaksanakan shalat dzuhur sebagai pengganti shalat jum’at karena bagi laki laki yang diwajibkan itu shalat jum’at bukan shalat dzuhur terkecuali sedang ada sebab syar’i seperti sedang shafar atau sedang sakit    

Hal ini sebagaimana yang telah dilaksanakan oleh sahabat ibnu zubair ,

قَالَ عَطَاءٌ اجْتَمَعَ يَوْمُ جُمُعَةٍ وَيَوْمُ فِطْرٍ عَلَى عَهْدِ ابْنِ الزُّبَيْر فَقَالَ عِيدَانِ اجْتَمَعَا فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ فَجَمَعَهُمَا جَمِيعًا فَصَلَّاهُمَا رَكْعَتَيْنِ بُكْرَةً لَمْ يَزِدْ عَلَيْهِمَا حَتَّى صَلَّى الْعَصْرَ  – رواه أبو داود

Atha berkata, “Hari Jum’at dan Iedul Fitri telah berkumpul pada hari yang sama di zaman Ibnu Zubair. Ibnu Zubair berkata, ‘Dua ied berkumpul pada hari yang sama. Lalu ia menjama’ keduanya, yaitu salat dua rakaat (salat ied) pada pagi hari, ia tidak melaksanakan salat apapun (tidak salat zhuhur) sampai ia salat Ashar”. HR. Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, I:281, No. 1072

Berdasarkan hadis ini, laki laki yang melaksanakan shalat ied telah melaksanakan shalat jum’at ibnu zubair tidak shalat jum’at lagi dan tidak pula shalat dzuhur.

Dan ungkapan Atha menggunakan kata “ جَمِيعًا فَصَلَّاهُم)َ ) menjama keduanya” bukan berarti ibnu zubair melaksanakan dua rakaat shalat ied lalu melaksanakan dua rakaat shalat jum’at pada pagi hari namun perkataan menjama keduanya yang di ungkapkan oleh atha adalah bahwasanya dengan melaksanakan shalat ied telah mencangkup shalat jum’at.

Perilaku sahabat ibnu zubair tidak menyalahi ketentuan syara,tapi justru mengamalkan sabda Rasulullah saw yang dikemukakan pada khutbah iednya sebagaimana telah di terangkan di atas

فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنَ الْجُمُعَةِ وَإِنَّا مُجَمِّعُونَ

“siapa yang mau yang merasa cukup (tidak melaksanakan salat Jum’at), maka salat ied ini mencukupkan dari (shalat) Jum’at, dan sesungguhnya kami akan melaksanakan salat jum’at “ HR Abu Dawud.

Kesimpulan :

  1. Laki-laki yang telah melaksanakan shalat ied dipandang telah melaksanakan shalat jum’at
  2. Laki-laki yang telah melaksanakan shalat ied, pada siang harinya boleh tidak melaksanakan shalat jum’at dan tidak perlu mengganti dengan shalat dzuhur, serta boleh juga melaksanakan shalat jum’at
  3. Bagi DKM masjid dan para khotib yang telah mendapatkan jadwal khutbah jum’at hendaknya tetap menyelenggarakan shalat jum’at agar bagi laki-laki yang tidak melaksanakan shalat ied tetap bisa menunaikan kewajiban melaksanakan ibadah shalat jumat
  4. Laki-laki yang tidak melaksanakan shalat ied tidak diberikan pilihan kecuali tetap wajib melaksanakan shalat jum’at
  5. Bagi perempuan walaupun telah melaksanakan shalat ied, tetap wajib melaksanakan shalat dzuhur
  6. Kaifiyat pelaksanaan ied pada hari jum’at sebagaimana biasa, yaitu di mulai oleh shalat kemudian khutbah

Referensi :
1. https://www.sigabah.com/beta/fatwa-dewan-hisbah-persis-soal-ied-pada-hari-jumat/

2. https://www.dialogislamgaruda.id/2020/03/23/rukhshah-shalat-jumat/

Narasumber : Al-Ustadz Amin Muchtar
Editor : M. Yogi Fajar Fathoni

2 thoughts on “IED jatuh pada hari jum’at ,bolehkah meninggalkan shalat jum’at bagi laki-laki yang telah melaksanakan shalat ied

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *