TRADISI REBO WEKASAN

pendahuluan

Berkaitan dengan rabu terakhir di bulan safar, ada suatu upacara peribadatan yang selama ini masih berkembang di masyarakat yang sering di kenal dengan istilah tradisi rebo wekasan atau Rabu Kasan atau Rabu Wekasan, yaitu rabu terakhir di bulan shofar sebelum memasuki bulan rabi’ul awal

Rebo Wekasan adalah sebuah tradisi di masyarakat Muslim terutama di Jawa, Sunda, Kalimantan Selatan, dan Bangka Belitung. Nama Rebo Wekasan sendiri diambil dari nama hari Rabu terakhir di bulan Safar.

Orang-orang yang ikut tradisi Rebu Wekasan mengikuti tradisi para wali jaman dahulu kala yaitu mempercayai bahwa Rabu terakhir bulan Safar adalah hari sial. Sehingga mereka harus melakukan ritual-ritual tertentu untuk menolak bala’ yang jatuh pada hari itu

amalan-malan pada rebo wekasan

amalan-amalan yang biasa di lakukan pada rebo wekasan ini diantaranya adalah melaksanakan amalan sholat awwabin untuk tolak bala’ (hajat lidaf’il bala’).

Sholat dilaksanakan empat roka’at dua kali salam, dengan niat:

أُصَلِّيْ سُنَّةَ الْحَاجَةِ لِدَفْعِ الْبَلَاءِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ لِلهِ تَعَالَى

atau niat:

أُصَلِّيْ سُنَّةَ الْحَاجَةِ لِدَفْعِ الْبَلَاءِ رَكْعَتَيْنِ لِلهِ تَعَالَى

  1. Al Fatihah, kemudian membaca surat Al-Kautsar 17x
  2. Al Fatihah surat Al-Ikhlash 5x
  3. Al Fatihah kemudian surat Al-Falaq 1x
  4. Al Fatihah surat An-Nas 1x

Selesai sholat membaca Do’a ini:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. اللّٰهُمَّ يَا شَدِيْدَ الْقُوَى وَيَا شَدِيْدَ الْمِحَالِ يَا عَزِيْزُ ذَلَّتْ لِعِزَّتِكَ جَمِيْعُ خَلْقِكَ اِكْفِنِيْ مِنْ جَمِيْعِ خَلْقِكَ يَا مُحْسِنُ يَا مُجَمِّلُ يَا مُتَفَضِّلُ يَا مُنْعِمُ يَا مُكْرِمُ يَا مَنْ لَآ إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ بِرَحْمَتِكَ ياَ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اللّٰهُمَّ بِسِرِّ الْحَسَنِ وَأَخِيْهِ وَجَدِّهِ وَأَبِيْهِ اِكْفِنِيْ شَرَّ هٰذَا الْيَوْمِ وَمَا يَنْزِلُ فِيْهِ يَا كَافِيْ فَسَيَكْفِيْكَهُمُ اللهُ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَحَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ. وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

tinjauan syar’i berdasarkan Al-qur’an dan Ash-shunnah

dalam menjalankan suatu bentuk beribadatan dalam islam tentulah kita di tuntut untuk mengemukakan dalil-dalil yang memerintahnya, karena dalam kaidah di katakan bahwa segala bentuk peribadatan adalah haram hukumnya sampai ada dalil yang secara tegas memerintahkannya

dari berbagai kajian analisis yang dijumpai kepada mereka yang masih melaksanakan rebo wekasan. tidak ada satu pun dari mereka yang menyebutkan bahwa peribadatan ini berdasarkan tuntunan wahyu Allah yaitu al-Qur`an dan As-Sunnah. Kebanyakan hanya mengikuti apa yang sudah ditradisikan tanpa tahu dasar diadakannya tradisi tersebut.

dari berbagai sumber baik buku-buku maupun internet tidak di temukan hal ini berdasarkan landasan Al-qur’an dan ash-sunnah tapi dari Abdul Hamiid Quds yang mendasarkan pada penandaan banyak Awliya Allah. Walaupun diklaim sebagai ulama, tetap saja dia bukan nabi yang membawa risalah Allah. Begitupun Awliya Allah yang dipakai dasar penandaan mereka. Siapa Awliya Allah itu? Tidak diketahui dengan jelas. Bahkan penyebutan Awliya Allah (wali-wali Allah) menunjukkan bahwa mereka bukanlah pada Nabi dan Rasul Allah pembawa risalah Allah.

kutipan imam abdul hamiid quds mengenai rebo wekasan

Seorang ulama besar, Imam Abdul Hamiid Quds, mufti dan imam Masjidil Haram Makkah pada awal abad 20 dalam bukunya “Kanzun Najah was-Suraar fi Fadail al-Azmina wasy-Syuhaar” mengatakan, “Banyak Awliya Allah yang mempunyai Pengetahuan Spiritual telah menandai bahwa setiap tahun, 320 ribu penderitaan (Baliyyat) jatuh ke bumi pada hari Rabu terakhir di bulan Safar.

Hari ini dianggap sebagai hari yang sangat berat dibandingkan hari-hari lain sepanjang tahun. Beberapa ulama mengatakan bahwa ayat Alquran,“Yawma Nahsin Mustamir” yakni “Hari berlanjutnya pertanda buruk” merujuk pada hari ini.

Untuk melindungi dari kutukan yang jatuh ke bumi pada hari tersebut,rabu terakhir di bulan Safar,dianjurkan untuk melakukan salat 4 rakaat (Nawafil, sunnah). Setiap rakaat setelah al-Fatihah dibaca surat al-Kawtsar 17 kali lalu surat al-Ikhlash 5 kali, surat al-Falaq dan surat an-Naas masing-masing sekali. Setelah salat dianjurkan untuk memanjatkan doa memohon perlindungan dari segala kutukan dan bencana yang jatuh ke bumi pada hari tersebut. Doanya adalah sebagai berikut: Bismillaahir Rahmaanir Rahiim, Allaahumma Ya Syadidal Quwa, Wa Ya Syadidal Mihal, Ya Aziiz, Ya Man Zallat li Izzatika Jamii’a Khaliqika, Ikfini min syarri Jamii’i Khaliqika, Ya Muhisinu, Ya Mujmilu, Ya Mutafadh-dhilu, Ya Mun’imu, Ya Mukrimu, Ya man La Ilaha Illa anta Arhamni bi Rahmatika ya Arhama Ar-Rahimiin, Allahuma bi Sirril Hasani wa akhiihi, wa Jaddihi wa abiihi, wa Ummihi wa Baniihi, Ikfini syarra haazal yawmi wa ma yanzilu fiih, Ya Kaafi al-muhimmaat, Ya Daafi al-baliyyat, fasa yakfiika humullaahu wa Huwa Samii’ul Aliim, wa Hasbuna Allah wa Ni’mal Wakiil wa la Hawla wala Quwwata illa billa hil Ali’yyil Azhiim. Wa Shallallahu ala Sayyidina Muhammadin Wa ‘ala Aalihi Wa Shahbihi wa Sallam. Amiin.

Adab Harian di Bulan Safar. Selain awrad harian, lakukan pula awrad berikut ini setiap hari: Syahadat 3 kali, Istighfar 300 kali, Banyak bersedekah. Awrad tambahan di atas berfungsi sebagai perlindungan terhadap 70.000 bala (kutukan) yang dijatuhkan kepada umat manusia di bulan ini. Mawlana Syekh Nazim QS juga berpesan untuk berhati-hati terhadap kesulitan yang terjadi pada hari Rabu terakhir di bulan Safar.

saffar bulan sialkah ?

Jika kita membaca tulisan-tulisan yang beredar dibuku-buku maupun internet yang dikeluarkan oleh orang-orang yang mengikuti tradisi Rebo Wekasan, kita akan menyimpulkan bahwa Safar adalah bulan sial, dan puncaknya adalah Rabu terakhir bulan Safar (Rebo Wekasan). Mitos Safar bulan sial ini sebenarnya sudah dibantah oleh Rasulullah Salallahu alaihi wassallam yang menyatakan bahwa bulan Safar bukanlah bulan sial.

Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah Saw bersabda,

لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَ هَامَّةَ وَلاَ صَفَرَ

Tidak ada penyakit menular (yang berlaku tanpa izin Allah), tidak ada buruk sangka pada sesuatu kejadian, tidak ada malang pada burung hantu, dan tidak ada bala (bencana) pada bulan Safar (seperti yang dipercayai).”

عن أَبَي هُرَيْرَةَ رضى الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ وَفِرَّ مِنْ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنْ الْأَسَدِ. رواه البخاري و مسلم

Rasulullah Saw juga bersabda: “Tidak ada wabah dan tidak ada keburukan binatang terbang dan tiada kesialan bulan Safar dan larilah (jauhkan diri) daripada penyakit kusta sebagaimana kamu melarikan diri dari seekor singa (HR. Bukhari)

Melihat pertentangan yang begitu tajam, yang satu menyatakan Safar bulan sial, sementara Rasulullah saw menyatakan tidak ada bencana pada bulan Safar, maka dapat dipastikan bahwa Kepercayaan Safar bulan sial dan puncaknya pada Rebu Wekasan adalah bukan dari Islam. Entahlah dari mana datangnya?
Saya tak tau…

Demikian pula ritual-ritual seperti shalat, doa, bersedekah yang dilakukan berdasar kepercayaan Safar bulan sial dan puncaknya pada Rebo Wekasan tentu menjadi ritual-ritual yang tidak ada artinya, bahkan terlarang. Karena Rasulullah saw bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak kami perintahkan amalan tersebut, maka amalan tersebut tertolak.(HR. Muslim)

kesimpulan :

  1. tradisi rebo wekasan bukan berasal dari agama islam
  2. tidak ada peribadatan khusus pada rabu terakhir di bulan saffar
  3. saffar bukan bulan sial
  4. tradisi peribadatan rebo wekasan adalah munkar
  5. ada banyak peribadatan yang sesuai dengan al-qur’an dan ash-shunnah yang masih belum kita laksanakan seperti shaum ayyamul bidh , shaum senin-kamis, shalat tahajud, shalat dluha, menjaga shalat sunnah rawatib, berinfaq, berzakat dll maka hendaknya setiap orang islam melaksanakan ibadah yang telah jelas perintahnya

wallahu a’lam

baca juga : http://www.saffarzine.com/meluruskan-dan-merapatkan-shaf-harus-saling-menempelkah/

referensi :
1. https://www.instagram.com/raudhah_ilmi/
2. https://www.sigabah.com/beta/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *